RSS

TAFSIR DAN HERMENEUTIKA

19 Sep

TAFSIR DAN HERMENEUTIKA

Oleh : Drs. M. Munir

  1. PENDAHULUAN

Dalam menafsirkan al-Qur’an, seorang mufassir dituntut menguasai beberapa cabang ilmu sesuai kaidah tafsir yang disepakati oleh ahli ilmu Islam. Seseorang tidak punya kewenangan untuk menafsirkan kalamullah  jika tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menjadi seorang mufassir. Metodologi tafsir yang digunakan pun harus sesuai tuntunan Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, serta para ulama yang mumpuni. Dengan kata lain, mereka lah rujukan utama kita.

Ilmu pertama yang lahir di kalangan umat Islam adalah Ilmu Tafsir. Ia menjadi mungkin (possible) dan menjadi kenyataan karena sifat ilmiah struktur Bahasa Arab. Tafsir “benar-benar tidak identik dengan hermeneutika Yunani, ataupun hermeneutika Kristen, dan juga tidak sama dengan ilmu interpretasi kitab suci dari kultur dan agama lain.[1] ” Ilmu tafsir al-Qur’an adalah penting karena ia benar-benar merupakan ilmu asas yang di atasnya dibangun keseluruhan struktur, tujuan, pengertian pandangan dan kebudayaan agama Islam. Itulah sebabnya mengapa al-Thabari (wafat 923 M) menganggapnya sebagai yang terpenting dibanding dengan seluruh pengetahuan dan ilmu.[2] Ini adalah ilmu yang mengupas hal ihwal kitab suci al-Qur’an dari segi sejarah turunnya, sanadnya, adab/cara membacanya, lafadz-lafadznya, arti-artinya, yang berhubungan dengan hukum-hukumnya dan hikmah hikmahnya.[3]

Namun, akhir-akhir ini, kita – umat Islam – dikejutkan oleh berbagai serangan arus pemikiran liberal, baik yang dilakukan oleh orientalis maupun orang-orang Islam yang terpengaruh pemikiran Barat. Dalam ilmu tafsir, dimunculkanlah hermeneutika. Ilmu yang mula-mula diterapkan dalam menafsirkan Bible ini, dipaksakan untuk dapat diterapkan dalam menafsirkan berbagai kitab suci, terutama al-Qur’an.

Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan :

حَدِيْثُ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيَّ. عَنِ النَبِيِ قَالَ: “لَتَتَبَعَنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ, شِبْرًا بِشِبْرٍ, وَذِ رَاعًا بِذِ رَاعٍ. حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبَعْتُمُوْهُمْ”. قُلْنَا: “يَارَسُوْلَ الله, الْيَهُوْدِ وَالنَصَارَى؟”. قَالَ: “فَمَنْ؟”ز (رواه البخارى و مسلم)

Artinya: Abi Said Al-Khudri r.a. berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga meskipun mereka berjalan masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian akan mengikuktinya.” Lalu kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani? Beliau bersabda, “Siapa lagi?!”[4]

Mereka yang kurang peka atau tidak jeli cenderung memandang enteng persoalan ini. Atau bahkan menganggapnya bukan persoalan sama sekali. Alasannya, ilmu itu netral. Namun, apakah benar demikian? Kecuali wahyu yang berasal dari Allah, boleh dikata semua produk pemikiran manusia pada hakekatnya tidaklah netral dalam arti bebas dari kepentingan para perumusnya dan anggapan yang menyertainya. Hanya mereka yang naïf menganggap ilmu pengetahuan itu bebas nilai. Aneka ragam ideology dan produk pemikiran sesungguhnya sarat dengan berbagai perandaian terpendam (tacit assumptions) dan kepentingan terselubung (hidden interests).[5]Tiga puluh lima tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1973, Syed Muhammad Naquib Al-Attas mengingatkan umat Islam mengenai ilmu pengetahuan yang sesugguhnya tidak bebas nilai dalam Risalah :

Kita harus mengetahui dan menyadari bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan tidak bersifat netral; bahwa setiap kebudayaan memiliki pemahaman yang berbeda-beda mengenainya meskipun diantaranya terdapat beberapa persamaan. Antara Islam dan kebudayaan Barat terbentang pemahaman yang berbeda mengenai ilmu, dan perbedaan itu begitu mendalam sehingga tidak bisa dipertemukan.[6]

Makalah ini mencoba menjawab masalah sebagai berikut : Apa pengertian atau definisi hermeneutika, Bagaimana sejarah perkembangan hermeneutika, Apa perbedaan tafsir dengan hermeneutika, Apa saja macam-macam tafsir al-Qur’an, Apa saja yang termasuk sumber-sumber tafsir al-Qur’an, Apa saja sebab-sebab terjadinya kekeliruan tafsir al-Qur’an, Bagaimana tanggapan hermeneutika dalam Pemikiran Islam dan Bagaimana sikap kita (sebagai umat Muslim) Terhadap Hermeneutikan.

 

  1. PEMBAHASAN
  2. Pengertian Hermeneutika

Secara etimologis, Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani “hermeneuein”, yang berarti mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata. Kata kerja itu juga berarti “menerjemahkan” dan juga bertindak sebagai “penafsir”. Dan menurut Mudjia, Hermeneutika adalah upaya peralihan dari sesuatu yang gelap ke sesuatu yang terang.[7] Hermeneutika juga sering didefinisikan sebagai:

  1. Teori penafsiran Kitab Suci (theory of biblical exegesis).
  2. Hermeneutika sebagai metodologi filologi umum (general philological methodology).
  3. Hermeneutika sebagai ilmu tentang semua pemahaman bahasa (science of all linguistic understanding).
  4. Hermeneutika sebagai landasan metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (methodological foundation of Geisteswissenschaften).
  5. Hermeneutika sebagai pemahaman eksistensial dan fenomenologi eksistensi (phenomenology of existence dan of existential understanding).
  6. Hermeneutika sebagai sistem penafsiran (system of interpretation). Hermeneutika sebagai sistem penafsiran dapat diterapkan, baik secara kolektif maupun secara personal, untuk memahami makna yang terkandung dalam mitos-mitos ataupun simbol-simbol.[8]

Dari keeman pengertian di atas, yang paling banyak dipahami oleh banyak orang, adalah hermeneutika sebagai prinsip-prinsip penafsiran kitab suci (principles of biblical interpretation). Ada pembenaran yang bersifat historis terhadap pemahaman ini, karena kata hermeneutika pada era modern memang digunakan untuk mengisi kebutuhan akan panduan dalam penafsiran Kitab Suci. Akan tetapi, hermeneutika bukanlah isi penafsiran, melainkan metodenya. Perbedaan antara penafsiran aktual (exegesis) dan aturan-aturan, metode-metode, dan teori yang mengaturnya (hermeneutika) sudah sejak lama disadari, baik didalam refleksi teologis maupun refleksi-refleksi non teologis.

 

  1. Sejarah Perkembangan Hermeneutika

Hermeneutika, yang dalam bahasa Inggrisnya adalah hermeneutics, berasal dari kata Yunani hermeneune dan hermeneia yang masing-masing berarti “menafsirkan” dan “penafsiran”.[9] Istilah hermeneutika pertama kali ditemui dalam karya Plato (429-347 SM), Politikos, Epinomis, Definitione, dan Timeus. Lebih dari itu, sebagai sebuah terminologi, hermeneutika juga bermuatan pandangan hidup (worldview) dari para penggagasnya. Sehingga bisa dikatakan bahwa hermeneutika tidak bebas nilai. Istilah ini bukan merupakan sebuah istilah yang netral.[10]

Semula hermenutika berkembang di kalangan gereja dan dikenal sebagai gerakan eksegesis (penafsiran teks-teks agama) dan kemudian berkembang menjadi “filsafat penafsiran” kehidupan sosial.[11] Kemunculan hermeneutika dipicu oleh persoalan-persoalan yang terjadi dalam penafsiran Bible. Awalnya bermula saat para reformis menolak otoritas penafsiran Bible yang berada dalam genggaman gereja. Menurut Martin Luther (1483-1546 M), bukan gereja dan bukan Paus yang dapat menentukan makna kitab suci, tetapi kitab suci sendiri yang menjadi satu-satunya sumber final bagi kaum Kristen. Menurut Martin Luther , Bible harus menjadi penafsir bagi Bible itu sendiri. Dia menyatakan, “This means that [Scripture] itself by itself is the most unequivocal, the most accessible [facilima], the most testing, judging, and illuminating all things,…”[12]Pernyataan tegas Martin Luther yang menggugat otoritas gereja dalam memonopoli penafsiran Bible, berkembang luas dan menjadi sebuah prinsip Sola Scriptura (cukup kitab suci saja, tak perlu ‘tradisi’).[13] Berdasarkan prinsip Sola Scriptura, dibangunlah metode penafsiran bernama hermeneutika.

Seorang Protestan, F.D.E. Schleiermacher-lah yang bertanggung jawab membawa hermeneutika dari ruang biblical studies (biblische Hermeneutik) atau teknik interpretasi kitab suci ke ruang lingkup filsafat (hermenutika umum), sehingga apa saja yang berbentuk teks bisa menjadi objek hermeneutika.[14] Bagi Schleiermacher, tidak ada perbedaan antara tradisi hermeneutika filologis yang berkutat dengan teks-teks dari Yunani-Romawi dan hermeneutika teologis yang berkutat dengan teks-teks kitab suci.[15]

Oleh karena transformasi yang dilakukan olehnya, maka Schleiermacher dianggap sebagai bapak hermeneutika modern (the father of modern hermeneutics).

Schleiermacher bukan hanya meneruskan usaha para pendahulunya semisal Semler dan Ernesti yang berupaya “membebaskan tafsir dari dogma”.[16] Lebih dari itu, ia juga mengajukan perlunya melakukan desakralisasi teks. Dalam perspektif hermeneutika umum ini, “semua teks harus diperlakukan sama, “tidak ada yang perlu diistimewakan, tak peduli apakah itu kitab suci (Bible) ataupun teks hasil karangan manusia biasa.[17]

Hermeneutika bukan sekedar tafsir, melainkan satu “metode tafsir” tersendiri atau satu filsafat tentang penafsiran, yang bisa sangat berbeda dengan metode tafsir Al-Qur’an. Di kalangan Kristen, saat ini, penggunaan hermeneutika dalam interpretasi Bible sudah sangat lazim, meskipun juga menimbulkan perdebatan. Dari definisi di atas jelas, bahwa penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an memang tidak terlepas dari tradisi Kristen. Celakanya, tradisi ini digunakan oleh para hermeneut (pengaplikasi hermeneutika untuk Al-Qur’an) untuk melakukan dekonstruksi[18] terhadap al-Qur’an dan metode penafsirannya.

 

  1. Perbedaan Tafsir dengan Hermeneutika

Al-Qur’an sebabagi sebuah kitab suci dan pedoman hidup kaum Muslimin telah, sedang dan akan selalu ditafsirkan. Karena itu, dalam pandangan kaum Muslimin tafsir al-Qur’an adalah istilah yang sangat mapan. Bagaimanapun, akhir-akhir ini istilah hermeneutika al-Qur’an (Quranic hermeneutics) sering digemakan oleh para orientalis dan para pemikir Muslimin modernis seperti Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, Mohamed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Amina Wadud Muhsin, Ashgar Ali Engineer, Farid Esack dan lain-lain. Padahal istilah hermeneutika, adalah kosa kata filsafat Barat, yang juga sangat terkait dengan interpretasi Bibel.

Karena itu tafsir “benar-benar tidak identik dengan hermeneutika Yunani, juga tidak identik dengan hermeneutika Kristen, dan tidak juga sama dengan ilmu interpretasi kitab suci dari kultur dan agama lain.[19] Dengan melihat beberapa perbedaan sebagai berikut:

No.

Tafsir

Hermeunitika

1.

Memiliki konsep yang jelas, berurat serta berakar di dalam Islam Dibangun atas faham relatifisme

2.

Para mufassir yang tekemuka sepanjang masa tetap memiliki kesepakatan-kesepakatan. Menggiring kepada gagasan bahwa segala penafsiran al-Qur’an itu relative

3.

Merujuk kepada ilmu yang dengannya pemahaman terhadadap Kitab Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw, penjelasan mengenai makna-makna Kitab Allah dan penarikan hukum-hukum beserta hikmahnya diketahui Diasosiasikan kepada Hermes, seorang utusan dewa dalam mitologi Yunani Kuno yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan pesan Dewata yang masih samar-samar ke dalam bahasa yang dipahami manusia
4. Sumber epistimologi adalah wahyu al-Qur’an. Sumber epistemologis dari akal semata-mata yang memuat zann (dugaan), shakk (keraguan), mira (asumsi),
5. Sejarah tafsir yang sudah begitu mapan di dalam Islam Muncul didalam konteks peradaban barat, yang didominasi oleh konsep ilmu yang skeptik atau spekulasi akal
6. Ilmu pendukung dalam menafsirkan al-Qur’an sudah ada dan mapan Tidak ada ilmu pendukung hermeneutika.[20]

Disamping perbedaan di atas, masih ada beberapa hal yang menjadikan tafsir al-Qur’an tidak sama dengan hermeneutika al-Qur’an. Atau dengan kata lain sejarah perkembangan tafsir al-Qur’an berbeda dengan sejarah perkembangan hermeneutika biebel. Yaitu antara lain:

Teks al-Qur’an, sejak diwahyukan kepada Nabi Muhammad sampai sekarang tidak ada masalah, yakni tetap dalam bahasa Arab. Berbeda dengan Bible berbahasa Hebrew (atau materi-materi yang membentuk Perjanjian Lama), menurut para cendekiawan mereka, tidaklah dibangun sepenuhnya atas dasar ilmiah historis yang menunjukkan keasliannya, tapi berdasarkan pada keimanan belaka, dan jika ada kesalahan yang seperti itu ia dapat dikoreksi hanya dengan pembetulan spekulatif (yang bahayanya). Kitab Perjanjian Baru juga mempunyai masalah yang sama dengan Bible Hebrew. Kitab-kitab ini, khususnya gospel, ditulis setelah zaman Yesus dalam bahasa Yunani (bukan bahasa Armaic, yang merupakan bahasa asli Yesus yang historis). Lagi pula, hal ini diakui oleh pihak yang berwenang dan terkenal dalam Kristen bahwa tujuan penulis-penulis gospel tidak untuk menulis sejarah yang obyektif tapi untuk tujuan-tujuan penyebaran agama Nasrani (evangelisme), yang sebahagiannya mengakibatkan kepada penafsiran-penafsiran allegoris yang berlebihan. Diakui pula bahwa salinan-salinan literatur Bible selanjutnya mengalami penyuntingan-penyuntingan reguler agar sesuai dengan kebutuhan dan zaman yang berubah.

Disini jelas bahwa pengetahuan tentang pengertian-pengertian yang orisinil dalam kitab-kitab suci Yahudi dan Kristen tidak dapat diperoleh, dan pada gilirannya akan memberikan jalan bagi suatu perkembangan yang oleh Gray disebut dengan “metode yang tidak sehat” dalam penafsiran. Disamping itu ada metode dogmatis yang berusaha untuk menghukumi dan mengevaluasi semua interpretasi kitab suci menurut tradisi-tradisi gereja yang diberi otoritas dengan mudah tanpa cacat.

 

  1. Macam-Macam Tafsir Al-Qur’an

Secara umum tafsir dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Tafsir bi al-ma’tsur, tafsir bi al-ro’yi dan tafsir bi al-Isyari. Dibawah ini kita jelaskan ada dua macam tafsir ini beserta hukumnya:

  1. Tafsir bi al-Ma’tsur

Dinamai dengan nama ini (dari kata atsar yang berarti sunnah, hadits, jejak, peninggalan)[21] karena dalam melakukan penafsiran seorang mufassir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya terus sampai kepada Nabi SAW. Tafsir bi al-Matsur adalah tafsir yang berdasarkan pada kutipan-kutipan yang shahih yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an dengan sunnah karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah, dengan perkataan sahabat karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah, atau dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in karena mereka pada umumnya menerimanya dari para sahabat. [22]

Tafsir-tafsir bi al-ma’tsur yang terkenal antara lain: Tafsir Ibnu Jarir, Tafsir Abu Laits As Samarkandy, Tafsir Ad Dararul Ma’tsur fit Tafsiri bil Ma’tsur (karya Jalaluddin As Sayuthi), Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Baghawy dan Tafsir Baqy ibn Makhlad, Asbabun Nuzul (karya Al Wahidy) dan An Nasikh wal Mansukh (karya Abu Ja’far An Nahhas).

  1. Tafsir bi ar-Ra’yi

Tafsir bir Ro’yiadalah tafsir yang berlandaskan pemahaman pribadi penafsir, dan istimbatnya dengan akal semata. Hal ini didasarkan pada perkembangan zaman yang menuntut pengembangan metode tafsir karena tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah maka tafsir ini memperbesar peranan ijtihad dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur. Dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu qiraah, ilmu-ilmu Al-Qur’an, hadits dan ilmu hadits, ushul fikih dan ilmu-ilmu lain seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.

Beberapa tafsir bir ra’yi yang terkenal antara lain: Tafsir Al Jalalain (karya Jalaluddin Muhammad Al Mahally dan disempurnakan oleh Jalaluddin Abdur Rahman As Sayuthi),Tafsir Al Baidhawi, Tafsir Al Fakhrur Razy, Tafsir Abu Suud, Tafsir An Nasafy, Tafsir Al Khatib, Tafsir Al Khazin

  1. Tafsir bi Isyari

Menurut kaum sufi, setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin. Yang zahir adalah yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sedangkan yang batin adalah yang isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat diketahui oleh ahlinya. Isyarat-isyarat suci yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Qur’an inilah yang akan tercurah ke dalam hati dari limpahan gaib pengetahuan yang dibawa ayat-ayat. Itulah yang biasa disebut tafsir Isyari. [23]

 

  1. Sumber-Sumber Tafsir al-Qur’an

Sumber penafsiran di era formatif dalam penafsiran al-Qur’an antara lan : Al-Qur’an, hadits, qiroa’t, pendapat para sahabat, cerita Isra’iliyat dan syair-syair Jahiliyah.

  1. Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an

Yaitu menafsirkan ayat al-Qur’an yang punya hubungan dengan pernyataan ayat lain yang sedang dibahas. Misalnya:

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qèù÷rr& ϊqà)ãèø9$$Î/ 4 ôM¯=Ïmé& Nä3s9 èpyJŠÍku5 ÉO»yè÷RF{$# žwÎ) $tB 4‘n=÷FムöNä3ø‹n=tæ uŽöxî ’Ìj?ÏtèC ωøŠ¢Á9$# öNçFRr&ur îPããm 3 ¨bÎ) ©!$# ãNä3øts† $tB ߉ƒÌãƒ ÇÊÈ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. (Q.S. al-Maidah (5)  : 1)

Pengertian öNä3ø‹n=tæ 4‘n=÷Fãƒ$tBžwÎ) (kecuali yang akan dibacakan kepadamu) ditafsirkan dengan:

.ôMtBÌhãm ãNä3ø‹n=tæ èptGøŠyJø9$# ãP¤$!$#ur ãNøtm:ur ͍ƒÌ“Yσø:$# !$tBur ¨@Ïdé& ΎötóÏ9 «!$# ¾ÏmÎ/ èps)ÏZy‚÷ZßJø9$#ur äosŒqè%öqyJø9$#ur èptƒÏjŠuŽtIßJø9$#ur èpys‹ÏܨZ9$#ur !$tBur Ÿ@x.r& ßìç7¡¡9$# žwÎ) $tB ÷LäêøŠ©.sŒ $tBur yxÎ/èŒ ’n?tã É=ÝÁ‘Z9$# br&ur (#qßJÅ¡ø)tFó¡s? ÉO»s9ø—F{$$Î/ 4 öNä3Ï9ºsŒ î,ó¡Ïù 3 tPöqu‹ø9$# }§Í³tƒ tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. `ÏB öNä3ÏZƒÏŠ Ÿxsù öNèdöqt±øƒrB Èböqt±÷z$#ur 4 …… ÇÌÈ

 

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. ….” (Q.S. Al-Maidah (5) : 3)

  1. Tafsir dengan hadits yang shahih

Hadits dijadikan sebagai penafsiran ayat-ayat al-Qur’an, karena hadits merupakan penjelas dari ayat-ayat yang muskil. Misalnya ketika sahabat tidak faham apa yang dimaksud kalimah taqwa” dalam Q.S. al-Fath: 26

øŒÎ) Ÿ@yèy_ šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. ’Îû ãNÎgÎ/qè=è% sp¨ŠÏJptø:$# sp¨ŠÏHxq Ïp¨ŠÎ=Îg»yfø9$# tAt“Rr’sù ª!$# ¼çmtGt^‹Å6y™ 4’n?tã ¾Ï&Î!qߙu‘ ’n?tãur šúüÏZÏB÷sßJø9$# óOßgtBt“ø9r&ur spyJÎ=Ÿ2 3“uqø)­G9$# (#þqçR%x.ur ¨,ymr& $pkÍ5 $ygn=÷dr&ur 4 šc%x.ur ª!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx« $VJ‹Î=tã ÇËÏÈ

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. al-Fath (48) : 26)

Nabi lalu menjelaskan bahwa kalimat taqwa adalah kalimat laa ilaaha illaa Allah.S

  1. Tafsir dengan Qira’at (versi bacaan)

Qiraa’h syaadzdzah (bacaan yang menyalahi bacaan resmi al-Qur’an) menjadi rujukan penafsiran oleh para sahabat. Misalnya hukum potong tangan dalam Q.S. al-Maidah (5) : 38

ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Kata “aydiyahumaa” ditafsirkan dengan salah satu qira’ah Ibnu Masud, “aymaanahumaa” (tangan kanannya). Maka berdasarkan bacaan tersebut , hukuman bagi pencuri yang telah memenuhi syarat tertentu adalah dipotong tangan kanannya terlebih dahulu.

  1. Tafsir dengan pendapat para sahabat

Jika para sahabat tidak mendapatkan informasi penafsiran al-Qur’an dari Rasulullah, maka mereka melakukan ijtihat dengan mengerahkan segenap kemampuan nalarnya. Contoh penafsiran para sahanat tentang ghanimah dalam Q.S. al-Anfal (8) : 41

* (#þqßJn=÷æ$#ur $yJ¯Rr& NçGôJÏYxî `ÏiB &äóÓx« ¨br’sù ¬! ¼çm|¡çHè~ ÉAqߙ§=Ï9ur “Ï%Î!ur 4’n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur ÇÆö/$#ur È@‹Î6¡¡9$# bÎ) óOçGYä. NçGYtB#uä «!$$Î/ !$tBur $uZø9t“Rr& 4’n?tã $tRωö6tã tPöqtƒ Èb$s%öàÿø9$# tPöqtƒ ‘s)tGø9$# Èb$yèôJyfø9$# 3 ª!$#ur 4’n?tã Èe@à2 &äóÓx« 퍃ωs% ÇÍÊÈ

“Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ayat di atas menjelaskan: seperlima dari ghanimah itu dibagikan kepada: a. Allah dan Rasul-Nya. b. kerabat Rasul (Banu Hasyim dan Muthalib). c. anak Yatim. d. fakir miskin. e. Ibnussabil. sedang empat-perlima dari ghanimah itu dibagikan kepada yang ikut bertempur. Namun demikian setelah Rasulullah wafat hilanglah hak Nabi SAW. dan kerabatnya. Kemudian para sahabat membagi seperlima dhanimah dibagi kepada tiga golongan saja yaitu anak yatim yang bukan dari keluarga Bani Mutholib, orang miskin yang bukan keluarga Bani Mutholib dan kepada ibnu sabil yang lemah dan membutuhkan pertolongan,

  1. Tafsir dengan kisah-kisah Isra’iliyat

Terdapat persamaan antara al-Qur’an denganTaurat dan Injil ketika memuat cerita para Nabi dan umat terdahulu. Namun demikan Al-Qur’an mengungkapkan cerita tersebu secara global. Misalnya tentang waktu, tempat, nama-nama tokoh dalam cerita al-Qur’an kadang disamarkan.

Kemudian ada sebagian para sahabat ada yang mencari perincian (yang diceritakan global dalam al-Qur’an), dengan mengambil riwayat-riwayat dari para ahli kitab yang telah masuk Islam (mis: Wahab Ibn Munabbih, Abdullah Ibn Salaam dan Ka’ab Ibn al-Akhbaar)

  1. Tafsir dengan syair jahili

Syair jahili bisa digunakan untuk menjelaskan aspek semantik, terutama kata-kata suli. Hal ini dilakukan olaeh Umar bin Khatab ketika dia kesulitan memahami kata “takhawwuf” dalam Q.S. an-Nahl (16) : 47

÷rr& óOèdx‹äzù’tƒ 4’n?tã 7$•qsƒrB ¨bÎ*sù öNä3­/u‘ Ô$râäts9 íO‹Ïm§‘ ÇÍÐÈ

”Atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa) Maka Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. (Q.S. an-Nahl: 47)

Pada waktu itu Umar bertanya kepada seorang kakek dari suku Hudzail, apakah kamu tahu salah satu syair yang dapat menjadi rujukan untuk makna itu (takhawwuf)? Kemudian kakek itu mnyebut salah satu syair yang berbunyi: takhawwufa ar-rahl minha taakiman qardan kamaa takhawwafa ‘uudan an-nabii’ as-safinu” (sedikit-demi sedikit (berangsur-angsur) unta itu menjadi gemuk dan banyak kutunya).

Hal sama juga pernah dilakukan oleh Ibnu Abbas ketika menafsirkan kala al-itsm (  اَلْإِثْمْ ) yang terdapat pada Q.S. al-A’raf (7) : 33. Ibnu Abbas menafsirkan lafal al-itsm dengan pengertian khamr (sesuatu yang memebukkan), berdasarkan sebuah syair : “Syarobtu al-itsma hattaa dlalla ‘aqli wa kadzalika al-itsmu tadzhabu bi al-‘uquul” (aku minum-minumak keras sampai hilang  akalku)[24]

Namun demikian ada perbedaan pendapat tentang penafsiran al-Qur’an dengan Israailiyat (Yang berasal dari Yahudi). Hal ini didasarkan pada Hadits Nabi Muhammad s.a.w : “Janganlah kalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula kalian dustakan” (Hr. Bukhary). Maka menjadikan Israailiyat tafsir al-Qur’an berarti membenarkan perkataan mereka, pada hal Nabi melarang membenarkan mereka.[25]

 

  1. Sebab sebab Kekeliruan Penafsiran

Redaksi ayat-ayat Al-Quran, sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik redaksi tersebut. Hal ini kemudian menimbulkan keanekaragaman penafsiran. Dalam hal Al-Quran, para sahabat Nabi sekalipun, yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan arti kosakatanya, tidak jarang berbeda pendapat, atau bahkan keliru dalam pemahaman mereka tentang maksud firman-firman Allah yang mereka dengar atau mereka baca itu. Dari sini kemudian para ulama menggarisbawahi bahwa tafsir adalah “penjelasan tentang arti atau maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia (mufasir)”, dan bahwa “kepastian arti satu kosakata atau ayat tidak mungkin atau hampir tidak mungkin dicapai kalau pandangan hanya tertuju kepada kosakata atau ayat tersebut secara berdiri sendiri.”

Dalam hal ini Ibn ‘Abbas,  menyatakan bahwa tafsir al-Qur’an terdiri dari empat bagian: (a) yang dapat dimengerti secara umum oleh orang-orang arab berdasarkan pengetahuan bahasa mereka; (b) yang tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak mengetahuinya; (c) yang tidak diketahui kecuali oleh ulama; dan (e) yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.

Dari pembagian di atas ditemukan dua jenis pembatasan, yaitu (a) menyangkut materi ayat-ayat (bagian keempat), dan (b) menyangkut syarat-syarat penafsir (bagian ketiga).[26]

Dari segi materi terlihat bahwa ada ayat-ayat Al-Quran yang tak dapat diketahui kecuali oleh Allah atau oleh Rasul bila beliau menerima penjelasan dari Allah. Pengecualian ini mengandung beberapa kemungkinan arti, antara lain:

  1. Ada ayat-ayat yang memang tidak mungkin dijangkau pengertiannya oleh seseorang, seperti ya sin, alif lam mim, dan sebagainya. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah yang membagi ayat-ayat Al-Quran kepada muhkam (jelas) dan mutasyabih (samar), dan bahwa tidak ada yang mengetahui ta’wil (arti)-nya kecuali Allah, sedang orang-orang yang dalam ‘lmunya berkata kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih (Q.S. al Imran (3) : 7).
  2. Ada ayat-ayat yang hanya diketahui secara umum artinya, atau sesuai dengan bentuk luar redaksinya, tetapi tidak dapat didalami maksudnya, seperti masalah-masalah metafisika, perincian ibadah an sich, dan sebagainya, yang tidak termasuk dalam wilayah pemikiran atau jangkauan akal manusia.

Dalam hal ini ada dua hal yang perlu digaris bawahi:

  1. Menafsirkan berbeda dengan berdakwah atau berceramah berkaitan dengan tafsir ayat Al-Quran. Seseorang yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas, tidak berarti terlarang untuk menyampaikan uraian tafsir, selama uraian yang dikemukakannya berdasarkan pemahaman para ahli tafsir yang telah memenuhi syarat di atas.

Seorang mahasiswa yang membaca kitab tafsir semacam Tafsir An-Nur karya Prof. Hasby As-Shiddiqie, atau Al-Azhar karya Hamka, kemudian berdiri menyampaikan kesimpulan tentang apa yang dibacanya, tidaklah berfungsi menafsirkan ayat. Dengan demikian, syarat yang dimaksud di atas tidak harus dipenuhinya. Tetapi, apabila ia berdiri untuk mengemukakan pendapat-pendapatnya dalam bidang tafsir,. maka apa yang dilakukannya tidak dapat direstui, karena besar kemungkinan ia akan terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan yang menyesatkan.

  1. Faktor-faktor yang mengakibatkan kekeliruan dalam penafsiran antara lain adalah:
    1. Subjektivitas mufasir;
    2. Kekeliruan dalam menerapkan metode atau kaidah;
    3. Kedangkalan dalam ilmu-ilmu alat (nahwu dan shorof)
    4. Kedangkalan pengetahuan tentang materi uraian (pembicaraan) ayat;
    5. Tidak memperhatikan konteks, baik asbab al-nuzul, hubungan antar ayat, maupun kondisi sosial masyarakat;
    6. Tidak memperhatikan siapa pembicara dan terhadap siapa pembicaraan ditujukan.
    7. Perubahan sosial dijadikan dasar pertimbangan dalam menarik kesimpulan pemahaman atau penafsiran ayat-ayat Al-Quran.[27]

 

  1. Tanggapan Hermeneutika dalam Pemikiran Islam.

Penggunaan istilah Hermeneutika dalam kajian interpretasi pada dunia Islam adalah sesuatu yang baru.[28] Sejak Hasan Hanafi memperkenalkan Hermeneutika pada dunia pemikiran Islam dalam bukunya yang berjudul: “Les Methodes d’Exeges, Essai sur La Science des Fordements de la Comprehesion, Ilm Usul al-Fiqh” pada tahun 1965. Dan dalam bukunya yang lain berjudul: “Islam in the Modern World, Religion, Ideologi, and Development”, vol: I, terutama pada subbab berjudul: “Method of the mistic Interpretation”, dan pada vol: II pada subbab: “Hermeneutics Libration and Revolution”.[29] Maka dikalangan ulama’ Islam terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang menerima hermeneutika dalam  pemikiran Islam dan kelompok yang menolak hermeneutika.

Alasan kelompok yang menerima hermeneutika dalam  pemikiran Islam adalah sebagai berikut:

  1. Al-Qur’an adalah teks-teks manusia biasa (hasil dari kebudayaan) dan karena itu perlu adanya onterpretasi agar dapat di fahami.
  2. Al-Quran kini sudah saatnya ditafsirkan ulang, karena tafsir al-Quran yang ada sekarang hanya ditfsirkan secara tekstual, maka perlu adanya penyesuaian dengan kondisi (konteks) masa sekarang.
  3. Penafsiran Al-Quran yang ada ini masih relatif kebenaranya. Sehingga masih memungkin penafsiran-penafsiran yang lebih bebas dari itu.
  4. Unsur pokok yang menjadi pilar utama Hermeneutika: text, author, dan audience, tidak berbeda dengan konsep tafsir Al-Qur’an. yaitu; 1) siapa yang mengatakan, 2) kepada siapa diturunkan, dan 3) ditujukan kepada siapa.[30]
  5. Praktek hermeneutika telah dilakukan dalam dunia penafsiran Islam sejak lama, bahkan sejak awal kajian tafsir, khususnya ketika menghadapi Al-Qur’an. Bukti dari hal itu adalah: 1) kajian-kajian mengenai asbab al-nuzul dan nasikh-mansukh, 2) penggunaan berbagai teori dan metode dalam proses penafsiran, dan 3) adanya kategorisasi tafsir tradisional, seperti; tafsir syi’ah, tafsir mu’tazilah, tafsir hukum, tafsir filsafat dan yang lain. Ini menunjukkan kesadaran tentang kelompok, ideologi, priode, maupun horizon social tertentu.[31]
  6. Istilah hermeneutika dalam pengertiannya hampir sama dengan istilah tafsir atau ta’wil. yang berarti menerangkan atau mengungkap (al-bayan wa al-kashf), sedangkan hermeneutika memiliki pengertian interpretasi.[32]
  7. Ada kesejajaran antara semangat Reformasi Protestan dan Gerakan Salafiyah dalam Islam. Dalam gerakan Salafiyah, dikembangkan suatu tradisi penafsiran Qur’an yang kurang lebih independen dari tradisi mazhab. Inilah yang menjelaskan kenapa dalam keputusan-keputusan majlis tarjih Muhammadiyah, misalnya, rujukan kepada Kitab Kuning yang memuat khazanah tradisi bermazhab sama sekali kurang, atau malah tak ada sama sekali. [33]

Sedangkan kelompok yang menolak hermeneutika dalam kajian Islam, memiliki alasan sebagai berikut:

  1. Hermeneutika berlandaskan pada pedoman bahwa segala penafsiran al-Quran itu relatif. Padahal, fakta menunjukkan bahwa para mufassir sepanjang masa tetap memiliki pedoman-pedoman pokok dalam menafsirkan al-Quran.
  2. Para hermeneut berpendapat bahwa penafsir bisa lebih mengerti lebih baik daripada pengarang, mustahil dapat terjadi dalam al-Quran. Tidak pernah ada seorang mufassir al-quran yang mengklaim bahwa dia lebih mengerti dari pencipta atau pengarang al-Quran, yaitu Allah SWT.
  3. Konsep hermeneutika yang berpedoman bahwa interpretasi teks yang berdasarkan doktrin dan bacaan yang dogmatis harus ditinggalkan dan dihilangkan (deabsolutisasi) juga tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai umat Islam, kita harus meyakini bahwa al-Quran adalah sebuah mukjizat dan berbeda dengan teks-teks biasa. Doktrin kebenaran al-Quran semuanya bersumber kepada Allah dan menjadi syarat keimanan umat Islam.
  4. Hermeneut yang mengatakan bahwa pengarang tidak mempunyai otoritas atas makna teks, tapi sejarah yang menentukan maknanya juga tidak mungkin diaplikasikan pada al-Quran. Seluruh umat Islam sepakat bahwa otoritas kebenaran al-Quran tetap dipegang oleh Allah SWT sebagai penciptanya. Realita juga menunjukkan bahwa Allah melalui al-Quran justru mengubah sejarah, bukan dipengaruhi atau ditentukan oleh sejarah. Diantara pengaruh al-Quran adalah fakta bahwa al-Quran telah melahirkan sebuah peradaban baru yang disebut sebagai “peradaban teks” (hadarah al-nash).[34]
  5. Tradisi hermeneutika dalam Bible memang memungkinkan. Terdapat berbagai macam Bible dan tiap-tiap Bible ada pengarangnya. Tapi teks al-Quran pengarang adalah hanya Allah. Karena itu metode hermeneutika yang diaplikasikan pada Bible tidak mungkin digunakan dalam al-Quran.[35]
  6. Bible diliputi serangkaian mitos dan dogma yang menyesatkan. Hal tersebut yang memicu digunakannya hermeneutika terhadap Bible. Sedangkan al-Quran itu pasti dan terjaga status keasliannya. Begitu pula sejarah dan tradisi tafsir al-Quran. Karena al-Quran diciptakan oleh dzat yang maha sempurna dan ditafsirkan oleh makhluk yang penuh keterbatasan, maka tidak akan pernah ada kata sempurna tentang penafsirannya.[36]
  7. Orang yang ingin menafsirkan al-Quran harus memenuhi beberap ketentuan sperti: menguasai as-Sunnah, yang dalam hal ini adalah memahami sepenuhnya nash (teks) as-Sunnah,  mengetahui dan memahami kisah-kisah sejarah di dalam Al-Quran atau berita tentang berbagai umat manusia pada zaman dulu yang bersumber dari Rasulullah. Menguasai ilmu Tauhid, ilmu Fiqih, ilmu I’rab (gramatika), ilmu Balaghah, ilmu sejarah dan lain sebagainya.[37] Hal ini tidak berlaku untuk hemeneutik.

 

  1. Sikap kita (sebagai umat Muslim) Terhadap Hermeneutikan ?

Sikap yang terbaik bagi umat terhadap maraknya hermeneutikan (dalam pemikiran Islam) adalah kembali mempelajari tafsir dengan sebenar-benarnya dan sekaligus mempelajari hermeneutika. Susahnya pendidikan di perguruan Islam jarang yang memberikan wacana kedua-duanya. Ada yang paham tafsir tidak paham hermeneutika atau sebaliknya. Perlu dilakukan kajian secara serius. Dan bagaimana pun juga umat perlu merespon secara ilmiah dan akademis. Juga sebagai umat Muslim, sikap kita terhadap apapun (tidak hanya pada harmeunetika), sesuatu yang asing perlu ditelaah dulu. Apa manfaatnya bagi umat, sesuai atau tidak dengan nilai-nilai Islam dll. Itu perlu dilihat. Harmeunetika juga sama. Adapun fungsi mempelajari hermeneutika antara lain:

  1. Menjelaskan ide dalam pikiran melalui kata-kata.
  2. Menjelaskan makna yang masih samar menjadi lebih jelas.
  3. Menerjemahkan suatu bahasa ke dalam bahasa lain yang lebih dikuasai.
  4. Mencari Makna yang relevan dan kontekstual di era sekarang.

Namun demikian dalam melakukan dan mempelajari hermeneutika dalam pemikiran Islam, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Jangan menggugat otoritas al-Qur’an
  2. Tetap memnjaga dan menghargai pemikiran ulama’ pada masa lalu
  3. Menjaga hal-hal yang sudah tsawabit (tetap).[38]

Disamping itu metode hermeneutika dalam pemikitan Islam (menafsirkan al-Qur’an) ada sisi negatif dan sekaligus sisi positif. Adapun sisi negatif metode hermeneutika antara lain

  1. Muhkamat bisa menjadi mutasyabihat
  2. Ushul bisa menjadi furu’
  3. Dhawabit bisa menjadi mutagayyirat
  4. Qath’i bisa menjadi dhanni
  5. Ma’lum bisa menjadi majhul
  6. Ijma’ bisa menjadi ikhtilaf
  7. Mutawatir bisa menjadi ahad
  8. Yaqin bisa menjadi dhann atau syak

Sedangkan sisi positif dari metode hermeneutika antara lain:

  1. Dapat melahirkan makna aktual sebuah teks
  2. Mendekatkan teks dengan para pembaca
  3. Mengeliminir mistikasi penafsiran kitab suci
  4. Lebih terukur
  5. Lebih lentur /fleksibel

 

  1. PENUTUP
    1. Kesimpulan.
      1. Secara etimologis, Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani “hermeneuein”, yang berarti mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata. Kemudian secara umum  hermeneutika diartikan sebagai prinsip-prinsip penafsiran kitab suci (principles of biblical interpretation)
      2. Istilah hermeneutika pertama kali ditemui dalam karya Plato (429-347 SM. Semula hermenutika berkembang di kalangan gereja, saat para reformis menolak otoritas penafsiran Bible berada dalam genggaman gereja.  Selanjutnya hermeneutika berkembang sebagi “metode tafsir” terhadap semua teks-teks agama termasuk dipaksakan untuk menafsirkan Al-Qur’an.
      3. Tafsir tidak sama dengan hermeneutika Yunani, juga tidak identik dengan hermeneutika Kristen, dan tidak juga sama dengan ilmu interpretasi kitab suci dari kultur dan agama lain. Dengan melihat beberapa perbedaan yang sangat mendasar. Misalnya: tafsir memiliki konsep yang jelas, berurat serta berakar di dalam Islam sedangkan hermeneutika dibangun atas faham relatifisme
      4. Secara umum tafsir dibagi menjadi tiga macam, yaitu Tafsir bi al-ma’tsur, tafsir bi al-ro’yi dan tafsir bi al-Isyari.
      5. Sumber penafsiran di era formatif dalam penafsiran al-Qur’an antara lain : Al-Qur’an itu sendiri, hadits nabi, qiroa’t (versi bacaan), pendapat para sahabat, cerita Isra’iliyat dan syair-syair Jahiliyah.
      6. Faktor-faktor yang mengakibatkan kekeliruan dalam penafsiran (al-Qur’an) adalah: Subjektivitas mufasir, Kekeliruan dalam menerapkan metode atau kaidah, Kedangkalan dalam ilmu-ilmu alat, Kedangkalan pengetahuan tentang materi uraian (pembicaraan) ayat, Tidak memperhatikan konteks (baik asbab al-nuzul, hubungan antar ayat, maupun kondisi sosial masyarakat), Tidak memperhatikan siapa pembicara dan terhadap siapa pembicaraan ditujukan, Perubahan sosial dijadikan dasar pertimbangan dalam menarik kesimpulan pemahaman atau penafsiran ayat-ayat Al-Quran.
      7. Sejak hermeneutika dikenalkan dalam pemikiran Islam, maka ada kelompok yang menerima hermeneutika dalam  pemikiran Islam dan kelompok yang menolak hermeneutika, dengan didasarkan pada landasan pemikiran masing-masing.
      8. Sikap yang terbaik bagi umat terhadap maraknya hermeneutikan (dalam pemikiran Islam) adalah kembali mempelajari tafsir dengan sebenar-benarnya dan sekaligus mempelajari hermeneutika, dengan memperhatikan fungsi/ manfaatnya, ketentuan yang berlaku dalam Islam serta memperhatikan sidi negatif dan positifnya.
      9. Penutup

Makalah ini masi jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan sehingga makalah ini menjadi lebih baik, sehingga akan mendatangkan manfaat bagi para pembaca.


[1] Al-Attas, The Concept of Education in Islam : A Framework for an Islamic Philosophy of Education. An Address to the Second World Conference on Muslim Education, Islamabad, Pakistan, 1980. Kuala Lumpur : Muslim Youth Movement of Malaysia (ABIM), 1980; cetakan kedua oleh International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), 1991, dikutip dari Prof.Dr.Wan Mohd Nor Wan Daud, Tafsir dan Ta’wil Sebagai Metode Ilmiah (Jurnal ISLAMIA, Tahun I No.1/Muharram 1425 H), hlm 54.

[2] Abu Ja’far Ibn Jarir al-Tabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, diterjemahkan dan diberi pengantar oleh J.Cooper (Oxford : OUP, 1987), selanjutnya sebagai Jami’ al-Bayan, 1:8, dikutip dari Prof.Dr.Wan Mohd Nor Wan Daud, Tafsir dan Ta’wil Sebagai Metode Ilmiah, (Jurnal ISLAMIA, Tahun I No.1/Muharram 1425 H), hlm 54.

[3] Al-Imam As-Suyuthi, Ilmu Tafsir (terjemahan) (Surabaya : Bina Ilmu, 1982), hlm.11.

[4] Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mutiara Hadits Shahih Bukhari Muslim edisi revisi Kitab Ilmu (Surabaya : Bina Ilmu, 2005), hlm 951

[5] Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran-Bab Hermenutika dan Tafsir Al-Qur’an (Jakarta : Gema Insani Press, 2008), hlm 176-177.

[6]Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Praktik Pendidikan Syed M.Naquib Al-Attas, diterjemahkan dari The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Bandung, Mizan, 2003), hlm 115.

[7] Mudjia Raharjo, Hermeneutika Gadamerian, UIN-Malang Press, Malang, 2007, hlm: 88. Lihat juga: Richard E. Palmer, Hermeneutics, interpretation theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, edisi terjemahan Indonesia oleh Mansur Hery dan Damanhuri Muhammed, Hermeneutika, teori mengenai interpretasi, Pustaka Belajar, 2005, hlm: 14-15.

[8] Richard E. Palmer, dikutip dari http://rezaantonius.multiply.com/journal/item/46”, diunduh pada hari   Kamis , tanggal 09/12/2010, jam  11:31 am.

[9]Mudjia Raharjo, Dasar-Dasar Hermeneutika : Antara Intensionalisme & Gadamerian (Yogyakarta : Ar-Ruzzmedia, 2008), hlm 27.

[10] Hamid Fahmi Zarkasyi, Menguak Nilai di Balik Hermeneutika (Jurnal ISLAMIA, Tahun 1 Volume 1 Muharram 1425 H), hlm 16.

[11]H.Mudjia Raharjo,M.Si., Dasar-Dasar…, hlm 30.

[12]Werner Georg Kummel, The New Testament : The History of the Investigation of Its Problems, Penerjemah S.McLean Gilmour dan Howard C.Kee (New York : Abingdon Press, 1972), 21-22, dikutip dari Adnin Armas, MA, Filsafat Hermeneutika dan Dampaknya Terhadap Studi al-Qur’an, Bahan-Bahan Mata Kuliah Islamic Worldview  di Program Pendidikan dan Pemikiran Islam Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Editor : Adian Husaini, 2008.

[13]Ibid, hlm. 27

[14]Mudjia Raharjo, Dasar-Dasar Hermeneutika : Antara Intensionalisme & Gadamerian (Yogyakarta : Ar-Ruzzmedia, 2008), hlm 30.

[15]Theodore Plantinga, Historical Understading in the Thought of Wilhelm Dilthey (United Kingdom : Edwin Ellen Press, Ltd., 1992), 103, dikutip dari Adnin Armas, MA, Filsafat Hermeneutika dan Dampaknya Terhadap Studi al-Qur’an, Bahan-Bahan Mata Kuliah Islamic Worldview  di Program Pendidikan dan Pemikiran Islam Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Editor : Adian Husaini, 2008.

[16]Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran-Bab Hermenutika dan Tafsir Al-Qur’an  (Jakarta : Gema Insani Press, 2008), hlm 179.

[17] Ibid., hlm 31.

[18]Secara etimologis dekonstruksi  berarti pembongkaran dari dalam. Dekonstruksi merupakan alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk penafsiran baku. Kris Budiman, Kosakata Semiotika (Yogyakarta, LKiS, 1999), 21, dikutip dari Dr.Ir.Muhammad Shahrur, Prinsip-Prinsip Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, bagian Pengantar Penerjemah (Yogyakarta, eLSAQ Press, 2004), hlm xvii.

[19]Wan Mohd Nor Wan Daud, dikutip dari http://zulfaqar.xtgem.com/Tafsir%20BEDA% 20 dengan %20Hermeunitika, diunduh pada hari Jum’at, tanggal 17/12/2010, jam 07:52 am

[21]http://id.wikipedia.org/wiki/Tafsir_Al-Qur%27an#Bentuk_Tafsir_Al-Qur.27an, diunduh pada hari Kamis, 16 Desember 2010, 07:42 am.

[22] Ibid

[23]Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Tafsir, Keutamaan dan Macam-macamnya, dikutip dari http://vbaitullah.or.id/downloads/ebooks/macam2-tafsir.pdf, diunduh pada hari kamis, tangga 16/12/2010, jam 08.00

[24] Abdul Mustaqim, Pergeseran Epistimologi Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 40-50.

[25]http://www.mail-archive.com/keluarga-islam@yahoogroups.com/msg05465.html.diunduh  pada hari Kamis, tanggal 09/12/2010, jam 5:44 pm

[26]http://al-quran.bahagia.us/_q.php?_q=sihab&dft=&dfa=&dfi=1&dfq=1&u2=&nba=41,  diun duh pada hari Kamis, tanggal 16/12/2010, jam  08:54 am.

 

[27] Ibid,

[28] Farid Esach dalam bukunya “Qur’an: Pluralism and Liberalism”, menyatakan: bahwa kata Hermeneutika merupakan istilah yang masih baru di dunia Islam, sehingga menuai banyak kritik, walaupun sebenarnya telah lama dipraktekkan, terutama dalam konsep penafsiran. Lihat: Muzairi, Hermeneutika dalam Pemikiran Islam, sebuah makalah dalam buku “Hermeneutika Al-Qur’an Mazhab Yogya”. Islamika, 2003, hlm: 61

[29]Muzairi, Hermeneutika dalam Pemikiran Islam, sebuah makalah dalam buku “Hermeneutika Al-Qur’an Mazhab Yogya”. Islamika, 2003, hlm: 60.

[30] Ibid, hlm: 62.

[31] Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an, tema-tema kontroversial, elSAQ, 2005, hlm: 13.

[32] Ruzbihan Hamazani http://elkutuby.multiply.com/journal/item/18, diunduh pada hari Kamis, 09 Desember 2010: 11.03

[33] Ibid

[34]Ahmad Sadzali, ”Hemeneutika Tak Bisa Menggantikan Tafsir Al-Qur’an”, http:// Ahmad Sadzali.wordpress.com/2010/04/21/Kitab Al-Qur’an tidak bisa digantikan dengan tafsir Hermeutika.htm , diunduh pada hari Jum’at 17 Desember 2010; 01:36 PM

[35] Angga Prilakusuma, ”Telaah Kritik Aplikasi Hermeneutika dalam Tafsir al-Qur’an, hlm. 17

[36]Khlmid Wahyudin, Kebobrokan Tafsir Hermeneutika, http://khlmidwahyudin. wordpress.com /2007/09/21/ kebobrokan-tafsir-hermeneutika/,  diunduh pada hari kamis, 09 desember 2010,  5:19 pm

[37]Ibid, Ahmad Sadzali

[38] Dr. H. Abdul Mustaqim, Mag, pada kuliah Studi al-Qur’an, hari Rabu tanggal 25 Desember 2010.

 

 

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada September 19, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: